GGF Kelola Limbah dengan Model Circular Economy

teknokra.com: Kelompok ternak sapi Limousin Livestock yang terletak di Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah merupakan mitra dari PT Great Giant Foods (GGF) yang memanfaatkan limbah dari perkebunan nanas. GGF sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang agrikultura, yang memproduksi bahan makanan seperti buah-buahan, daging, dan susu sapi. Limousin Livestock bergabung menjadi mitra GGF pada tahun 1992 sejak berdirinya anak dari perusahaan GGF, PT Great Giant Livestock.

Sarjono, Ketua Kelompok Limousin Livestock, mengatakan sudah sejak pertama kali bermitra sapi-sapi dipeternakannya diberi pakan dari limbah kulit nanas yang diproduksi oleh GGF. Proses pakan ternak dari limbah kulit nanas merupakan hasil perjalanan panjang.

“Iya ada sejarahnya, generasi pertama senior-seniorlah, jaman bapak saya yang yang merasakan pertama kali kasih pakan kulit nanas ke sapi. Kalau saya bisa dibilang masuk ke generasi kedua di kelompok ternak limousin,” katanya.

Sekarang pakan sapi merupakan hasil campuran dari kulit nanas, kulit singkong, dan onggok yang digiling halus untuk usaha penggemukan sapi Limousin.

Sakiman, peternak generasi pertama Limousin Livestock | foto : Fahimah Andini

Sakiman (68), peternak generasi pertama Limousin Livestock, membenarkan hal tersebut. Sebelum bermitra dengan GGL, para peternak memang kesulitan dalam memberi pakan ternaknya karena harus menguras energi untuk mencari rumput. Namun, semenjak bermitra dengan GGF sambil didampingi untuk memberi pembinaan untuk memberi pakan. Akhirnya memanfaatkan limbah kulit nanas yang langsung dikirm oleh GGF untuk pakan ternak.

“Kalau dulu kendalanya jalan belum bagus. Jadi mobil belum bisa masuk ke desa saya harus bolak balik ngambil berkarung-karung makanan sapinya pakai gerobak. Sekarang, alhamdulillah, jalannya sudah bagus jadi mobil bisa langsung ke kandang bawa makanannya,” ujarnya

Sarjono menunjukkan kandang peternakannya | foto : Fahimah Andini

Persoalan lain yang menjadi perhatian Sarjono dan kelompok ternaknya yaitu limbah kotoran dari sapi. GGF memberi pembinaan agar peternak desa Astromulyo bisa mandiri. Para peternak bisa ikut berkonstribusi menjaga lingkungan dengan mengolah kotoran sapi tersebut menjadi pupuk yang bisa dipakai untuk kebun atau sawah mereka sendiri ataupun dijual.

Sarjono menjelaskan dia merasa beruntung memiliki kandang yang langsung bersebelahan dengan sawah. Dia mendesain kandangnya dengan diberi aliran air supaya saat dimusim hujan kotoran sapi bisa teurai menjadi cairan dan mengairi persawahan dengan sendirinya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Widodo, warga astomulyo, yang secara mandiri mengolah kotoran-kotoran sapinya sebagai pupuk. Setelah bergabung dengan kelompok ternak limousin, jumlah sapi yang harus dirawatnya ikut bertambah. Bertambahnya sapi juga menambah kotoran yang harus dia bersihkan. Setiap hari dia harus membersihkan kandang dan mengumpulkan kotoran sapi. Selanjutnya dijemur sampai kering sebelum digunakan sebagai pupuk.

“Ini pupuknya untuk dibawa ke sawah, hasil panennya juga lebih bagus pakai pupuk dari kotoran sapi dibanding pestisida,” ujarnya.

Zero Waste dengan Circular Economy

Proses circular economy di Great Giant Foods | foto : dokumentasi

Melayani masyarakat menyediakan makanan berkualitas yang sehat dan bernutrisi dengan proses produksi yang ramah lingkungan serta berkelanjutan merupakan tujuan dari Great Giant Foods (GGF). Saat ini isu lingkungan menjadi salah satu fokus dari Sustainabile Development Goals (SDGs) yang juga menjadi komitmen dari GGF untuk bisa ikut berkonstribusi melestarikan lingkungan. GGF menyadari sebagai perusahaan bergerak di bidang pertanian yang setiap bulannya menghasilkan 209.402 ton biomassa, jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi masalah besar bagi lingkungan.

Jalal, Co Founder A+ CSR Indonesia, menjelaskan untuk mengatasi masalah limbah yang dihasilkan perusahaan bisa menerapkan prinsip circular economy. Ide circular economy secara diametrikal bertentangan dengan linear economy yang menghasilkan limbah yang tidak dapat didaur ulang. Circular econmony merancang sejak awal ketiadaan limbah.

Circular economy prinsipnya produksi barang dilakukan dengan mendesain material agar dapat di daur ulang sehingga selalu ada nilai tambah dari setiap olahan dan menekan residu sampah,” ucapnya.


Wacana dan praktik circular economy di Indonesia terus menguat sejak sekitar tiga tahun yang lalu. Di awal tahun 2020 komitmen pemerintah Indonesia untuk penerapan circular economy dan sedang dibuat aturan pengadaan ramah lingkunganan.

Menanggapi hal itu, Arif Fatullah, Senior Manager Sustainabilty Great Giant Food, mengatakan sebenarnya GGF sudah menerapkan pemanfaatan limbah dengan prinsip circular economy sejak lama. Dalam pemanfaatan limbah, Arif mengatakan tidak hanya dilakukan secara internal oleh perusahaan tetapi juga mengajak para mitra GGF. Salah satu contohnya adalah dengan memanfaatkan limbah kulit nanas yang bekerjasama dengan peternak binaan kelompok Limousin Livestock yang menjadi mitra GGF.


Memiliki perkebunan nanas seluas kurang lebih 23 ribu ha di Lampung Tengah. GGF sendiri sudah menerapkan sustainable farming untuk mengurangi limbah perkebunan. Di dalam perkebunan nanas sendiri sudah tersedia reservoir air yang berfungsi untuk menampung air hujan dan airnya bisa digunakan kembali ketika kemarau. Selain itu terdapat juga konservasi bambu yang digunakan untuk mencegah erosi dan menjaga kelestarian sungai sekitar perkebunan.


“Setiap bagian nanas juga dimanfaatkan tidak ada yang menjadi limbah. Misalnya makhkota nanas digunakan kembali sebagai bibit, kulitnya untuk pakan ternak, batang dan daun nanas diolah sebagai biogas,” tuturnya.


Arif juga mengatakan tantangan dalam menerapkan economy circular di Great Giant Foods adalah kesiapan dari sumber daya manusia karena harus membuat hal yang berbeda maenjadi sebuah kesempatan dan harus menyiapkan kemampuan manusia untuk bisa mengelolanya.

“Selain itu, tantangan selanjutnya adalah menjaga konsistensi dan sinergi dalam menerapkan circular economy, karena memang ada satu saja yang terhambat maka yang lainya akan terdampak,” ujarnya.


Great Giant Foods mempunyai harapan apa yang dilakukan ini tidak hanya mengedepankan ekonomi semata, tetapi juga bisa memberikan solus dari permasalahan yanga ada di dunia ini. Salah satunya adalah dengan mengupayakan memanfaatkan masalah yang ada menjadi sebuah kesempatan yang kemudian memberikan keuntungan tidak hanya perusahaan tetapi sebanyak mungkin kepada masyarakat. GGF juga berharap makin banyak perusahaan yang mengadopsi circular economy, sehingga permaslahan lingkungan seperti perubahan iklim, kehilangan aneka ragam hayati, dan sampah bisa teratasi untuk keberlanjutan kehidupan generasi selanjutnya.


Penulis: Fahimah Andini

Redaktur Jaringan

https://teknokra.com

Related post