Kaum Tunanetra, Memilih dengan Hati

Gairah pemilihan umum tahun ini turut dirasakan oleh para penyandang tunanetra. Meski tak dapat melihat secara langsung para calon pemimpin, mereka tetap ingin menentukan para wakil rakyat.

Teknokra.com : Pagi itu (9/4), lazimnya Tempat Pengumungutan Suara di berbagai daerah, TPS 09 juga didatangi calon pemilih. Bedanya, pengunjung TPS ini kebanyakan menggunakan tongkat dan kaca mata hitam.

Mereka adalah pemilih yang menyandang disabilitas pengelihatan. Sebanyak 19 penyandang tunanetra yang tinggal di UPTD Dinas Sosial Provinsi Lampung datang berbondong-bondong ke TPS. Mereka dibantu pegawai Dinas Sosial setempat demi menyalurkan suaranya.

Semangat para penyandang tunanetra ini mendapatkan sambutan baik dari panitia. Sejak pagi, panitia pemilu sudah sibuk mempersiapkan surat suara bagi pemilih. TPS ini merupakan salah satu TPS yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Namun, masyarakat tetap diperbolehkan memilih di TPS ini.

Muklis salah satunya, tunanetra yang tinggal dekat dinas sosial ini ikut serta dalam Pemilu Legislatif. Dulunya, ia juga pengguni asrama dinas sosial. Namun, setelah mampu hidup mandiri, Muklis memilih pindah ke rumah yang disediakan pemerintah. Meski memiliki keterbatasan dalam penglihatan, ia tak berpikir untuk ikut dalam golongan putih (golput).Saat namanya dipanggil, lelaki yang berprofesi sebagai tukang pijit ini beranjak dari tempat duduknya. Ia didampingi seorang petugas untuk mengambil surat suara, lantas berjalan menuju bilik suara.

Dari dalam bilik suara itulah, Muklis memilih dengan nalurinya. Selama ini, ia tak mampu melihat langsung wajah pemimpin pilihannya. Namun, naluri Muklis menuntunnya untuk memilih calon terbaik. Pemimpin yang ia harap dapat memberikan banyak kontribusi bagi rakyat kecil.

Surat suara yang diperuntukkan bagi Muklis dan kaum disabilitas lainnya tak mempunyai perbedaan. Mereka disodori surat suara yang sama seperti warga normal lainnya. Namun, mereka diberikan alat bantu memilih. Alat bantu itu berupa brailer foto-foto para calon lengkap dengan nama dan nomor urut. Muklis juga didampingi oleh orang kepercayaannya. Ia hanya menyebutkan nama atau nomor calon pilihannya setelah meraba alat bantu itu. Orang kepercayaan itu yang membantu mencobloskan di surat suara yang sebenarnya.

Usai memilih calon legislatif dan gubernur, lelaki bertubuh gempal kembali duduk di kursi semula. Ia mengaku senang dapat mengikuti Pemilu. Menurutnya, ia telah melaksanakan tanggung jawab sebagai warga negara. Muklis juga maklum harus didampingi saat memilih. “Merasa terganggu sih tidak, tapi ya terpaksa karena tidak ada alat bantu agar kami bisa memilih sendiri,” ujar Muklis.

Sebelumnya, tunanetra yang akan memilih di TPS 09 telah didata oleh ketua RT setempat. Muklis mengaku mendapatkan undangan dari panitia. Ia lantas mendaftarkan namanya untuk bisa memilih pagi tadi. Muklis mengaku KPU pernah memberikan sosialisasi kepada para tunanetra yang ada di sekitar UPTD Dinas Sosial Provinsi Lampung.

Saat itu, ia diberikan pengarahan dan simulasi pemilihan menggunakan surat suara khusus penyandang disabilitas. Dengan surat suara khusus itu, Mukhis dapat memilih sendiri calon yang diinginkannya tanpa harus didampingi orang lain. Namun, saat pemilihan surat suara khusus itu tak ia dapati. Kendati begitu, Muklis enggan menanyakan perihal surat suara khusus itu.

Muklis mengaku hanya mengenal para calon tersebut dari berbagai pemberitaan di televisi. Selama ini, belum pernah ada calon anggota legislatif maupun calon gubernur yang sengaja datang ke Dinas Sosial untuk berkampanye. Berbagai informasi yang ia peroleh dari media ia jadikan bahan pertimbangan dalam memilih.

Meski belum mengetahui calon Presiden yang akan maju, Mukhlis mengaku akan tetap memilih saat Pemilu bulan Juni mendatang. Ia berharap panitia penyelenggara Pemilu lebih memperhatikan orang-orang seperti dirinya. Muklis masih ingin memilih tanpa harus ditemani orang lain. Ia berharap KPU dapat menyediakan surat suara khusus pada Pemilu mendatang.

Sebagai pemilih, ia masih berharap calon yang terpilih nanti dapat memegang amanah dengan baik dan jujur. “Betul-betul memiliki keinginan untuk menyejaterakan rakyatnya, dari rakyat jelata, rakyat biasa dan rakyat-rakyat golongan seperti kami,” ujarnya. Ia juga mendambakan pemimpin yang mampu memperhatikan kaum disabilitas seperti dirinya. “Tidak ada diskriminasi untuk kaum seperti kami,” ucap Muklis penuh harap.

Laporan : Fajar Nurrohmah

Editor : Vina Oktavia

 

admin

Related post