Resensi Buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

teknokra.com:“Persoalannya, bagaimana kamu akan mengenali Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah. Sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya…” Cak Dlahom.

Merasa pintar bodoh saja tak punya, dari judul bukunya yang sudah “nyeleneh” ini menceritakan tentang kehidupan di suatu kampung bersama dengan penduduknya yang memiliki karakter yang beraneka ragam. Ada Mat Piti yang suka membantu tetangganya, ada juga Cak Dlahom yang dianggap kurang waras sama orang dikampungnya, ada juga Romlah putrinya Mat Piti yang menjadi kembang di desanya, ada juga Pak Lurah dan lainnya.

Buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situ web Mojok.co sejak kali pertama rilis. Buku ini mengulas kehidupan beragama di kampung tersebut. Yang kita kira Cak Dlahom adalah orang yang dianggap kurang waras justru memiliki ilmu agama yang melebihi ustad di kampungnya. Kalimat-kalimat yang disampaikan Cak Dlahom dalam buku ini sungguh membuat kita merasa malu dan tidak seharusnya seperti ini dalam beragama

Di dalam buku ini secara gamblang mengoreksi kehidupan beragama dalam masyarakat di Indonesia misalnya pada Bab “Dia sakit dan Kamu Sibuk Membangun Masjid” di bab ini Cak Dlahom sebagai tokoh yang mempunyai ilmu agama yang tinggi meskipun warga kampung menganggap Cak Dlahom kurang waras memarahi seluruh warga ketika istri Bunali meninggal akibat terlilit utang, sedangkan warga kampung sibuk membangun masjid megah-megah. Di bab ini Cak Dlahom dengan gamblang mengutarakan kekecewaannya terhadap warga kampung, “sampean tidak salah, Pak RT. Kita semua yang salah. Kita lebih sibuk datang ke masjid ketimbang sibuk mengunjungi orang-orang miskin seperti istri Bunali. Kita rajin berdoa di masjid, lalu merasa bertemu dengan Allah. Padahal ketika Allah kelaparan, kita tidak pernah memberi makan, Allah sakit, kita tidak menjenguk,” kata Allah kelaparan. Allah sakit dimaksudkan hamba allah yang sedang menderita namun kita abaikan. Dalam bab ini merupakan cerminan dari masyarakat kita saat ini, yang lebih mengutamakan hal yang tidak atau belum perlu ketimbang hal yang sangat penting seperti dalam kisah ini.

Sentilan, celotehan yang keluar dari kata-kata Cak Dlahom dalam buku ini sempat membangkitkan emosi. Tanpa terpaksa saya berusaha mengoreksi ulang keislaman yang saya agung-agungkan selama ini. Islam bukan hanya tentang shalat lima waktu, membaca Al Quran, puasa, zakat dan berhaji.

Islam juga tak sebatas urusan-urusan kita dengan Allah semata. Ucapan, perilaku, kasih sayang dan cara kita menghargai serta menghormati hak orang lain adalah Islam. Bahkan dicontohkan Rasul dengan sangat indah dan menentramkan. Islam itu indah, namun keindahan itu hanya akan terlihat jika umatnya dapat merepresentasikan Islam dalam kehidupan di dunia, bukan akhirat semata.

Meskipun bukan seorang ustaz, ulama, atau pendakwah, melalui buku ini Rusdi Mathari menunjukkan kualitas dan kecerdasannya dalam mengajarkan agama. Sebagai seorang jurnalis, Rusdi lebih mampu menunjukan kemampuan menyiarkan agama daripada beberapa orang yang mengaku sebagai pendakwah. Melalui karya ini kita bisa mengenal Rusdi nan berwawasan agama luas ketimbang pendakwah-pendakwah yang sering berkutat dengan kontroversi.

Membandingkan karya Rusdi ini dengan pendakwah-pendakwah memang bukan sesuatu yang seimbang. Karena yang dilakukan Rusdi adalah menulis cerita dan kemudian dibukukan. Sedangkan yang dilakukan oleh para pendakwah adalah menyiarkan agama di depan orang banyak. Tapi kiranya dari kisah-kisah di buku ini bisa diambil pelajaran untuk kita semua.

Judul :Merasa pintar bodoh saja tak punya.
Penulis : Rusdi Mathari
Penerbit : bukumojok
Xvii + 226 halaman
Cetakan ketujuh, Januari 2020

Penulis Andre Prasetyo Nugroho

Pemimpin Redaksi

Related post