Sepeda Fixie Tak Sekadar Warna-warni

Foto: Alvindra
Foto: Alvindra

Teknokra.com : “Jika ini hanya musiman, ini musim yang baik. Jika ini bisa menjadi budaya, ini budaya yang baik, Sedikitnya menit dalam musim atau budaya yang kalian lakukan, membuat udara dan lingkungan lebih baik”.

Ungkapan bertuah itulah yang ditunjukan Fajar dari blackberry nya. “Visi itu selalu kami sampaikan kepada teman-teman pecinta fixie, dan menjadi slogan umum bagi pecinta sepeda,” ujar Ketua Komunitas After School itu, Minggu 19 Juni.

Stadion Pahoman pagi itu nampak berseri dari biasanya. Puluhan sepeda dengan variasi warna nyentrik berjejer di halaman depan stadion.Ditambah sorot matahari pagi, warna-warna sepeda itu makin ngejreng.

Sepeda fixie, begitu orang menamainya. Ia dikenal unik dengan paduan warna cerah yang menghiasi setiap sisinya. Merah, kuning, biru, hijau, putih dan warna lain yang mengilau. Warna ban pun umumnya mengikuti warna rangka hingga terlihat matching. Tak salah bila kemudian sepeda ini dijuluki sepeda modis atau sepedanya anak muda.

Fixie tak dilengkapi rem seperti sepeda pada umumnya. Butuh keahlian khusus agar bisa menghentikan laju sepeda. Si pengemudi memakaiteknik menahan pedal hingga laju roda tertahan. Ngesot, istilah yang biasa dipakai untuk teknik rem macam ini.

Komponen terpenting dalam fixie sebenarnya bukanlah pada warna, melainkan fix gea(gir mati). Fix gear bisa membuat fixie dapat maju ataumundur. “Jadi walaupun sepeda gak berwarna asal memakai fix gear itu sudah fixie,” ujar Tri Febrianto akrab disapa Iik, salah satu pecinta fixie dari komunitas Elephant Bike.

Ban sepeda fixie umumnya menggunakan ukuran seperti ban sepeda balap (road bike) atau sepeda dalam kota (hyrid bike) dengan rim 700c,ukuran ban 19 – 23 C. Rims atau pelek, biasanya didominasi oleh warna terang yang kontras dengan warna ban.

Fixie bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan si pemakai. Misal bila ingin menggunakan gaya fixie penuh, bisa dipasang gigi belakang tetap (sprocket). Pedal akan mengikuti gerak ban. Namun bila ingin lebih santai, roda belakang bisa dibalik untuk dipasang sprocket agar bergerak seperti biasa.

Si pemakai bisa menambahkan lampu sebagai penerangan atau sekadar bergaya. Pedal juga bisa dipasangi sarung kaki (to clips) yang dipasang di pedal sebagai alat bantu untuk ngerem. Pun halnya stang sebagai alat pengendali, bisa dimodifikasi sesuai kenyamanan si pemakai.

Sepeda fixie atau fixed gear pertama kali dikenal di negeri Paman Sam, tepatnya di kota New York. Sepeda ini mulanya dipakai oleh para pengantar pos atau surat kabar, untuk menghindari kemacetan. Ia menjadi alternatif yang pas karena waktu pengiriman relatif lebih cepat.

Fixie punya kontes yang umumnya menantang para penggowes. Beberapa teknik yang biasa dilombakan seperti, balapan (speed race), Track stand; posisi berdiri di sepeda dengan kaki tetap di pedal sebagai uji keseimbangan, teknik long skid atau ngerem panjang, hingga teknik willy;mengangkat roda depan kemudian menggowesnya. Selain itu dikenal juga art contes; kontes keindahan modifikasi sepeda.

Tak dipungkiri, fixie kini jadi trennya bersepeda. Di tanah air, ia ngetren dikalangan goweser—sebutan untuk penggowes sepeda. Selain untuk alat transportasi dan olahraga, fixie sudah menjadi gaya hidup berbagai lapisan masyarakat khususnya kawula muda. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Jogjakarta sudah lebih dulu mengenalnya.

Di Lampung, fixie mulai marak pada awal 2010. Beberapa komunitas fixie lalu bermunculan. Sebut saja komunitas After School, Elephant Bike, dan Slukukers. Komunitas ini sengaja dibentuk sebagai wahana saling berkumpul sesama pecinta sepeda. Saling berbagi informasi hingga menyusun visi melestarikan lingkungan.

Komunitas After scholl misalnya, punya kegiatan rutin seperti night riding atau goes bareng malam hari setiap Rabu dan Jumat malam. After schooll yang terbentuk pada 10 Oktober 2010 kini punya lima puluhan anggota. Mereka ada yang pelajar, mahasiswa dan pekerja. Mereka biasa ngumpul di bascampnya di Jalan Tanjung No 5 Rawa Laut.

Iik mengaku banyak mendapat pengalaman sejak bergabung dengan komunitas Elephant bike. “Selain menambah pertemanan, goes bareng membuat hobi bersepeda tidak melelahkan malah mengasyikan. Kita juga biasanya dibantu dalam perakitan.”

Pencinta sepeda atau orang awam umumnya tertarik pada fixie karena warna yang mengundang selera dan tren. Terlebih warna sepeda dipakai sebagai cerminan dari karakter pemiliknya.

“Saya tertarik ke fixie karena lagi tren,” ujar Iik yang hijrah dari low raider pada 2010. “Pada awal terbentuknya Elephant bike, belum ada sepeda fixie, yang ada hanya Low reider, basman dan cooper.

“Sepedahnya lucu, warna-warni,” ujar Lita, anggota Elephant bike yang bergabung sejak Januari 2011. Ia satu-satunya anggota wanita di komunitas yang terbentuk sejak 2008 itu. Mahasiswi D3 Keuangan Fakultas Ekonomi Unila ini mengecat sepedanya dengan warna pink. “Warna pink itu cewek banget,” ujar penggowes yang pernah terjungkal di turunan depan Panin bank itu.

Agus Sulendro seorang penggowes fixie mengatakan “Fixie itu sepeda yang unik, dan banyak trik-trik yang bisa dimainkan,” ujar polisi muda itu.“Saya puas ngerakitnya.”

M Raffi Erliansyah, siswa kelas 1 SMP 23 Bandarlampung, rela menyisihkan uang jajannya selama empat bulan untuk ditabung. Uang Rp1,8 juta ia pakai untuk membeli berbagai komponen fixie. Selebihnya ia dibantu kakaknya merakit sendiri sepeda yang kini berwarna merah dengangradasi silver pada rimsnya itu.

Raffi memakai sepedanya itu tak hanya untuk gowes bareng komunitas. Melainkan sebagai moda transportasinya pulang pergi ke sekolah. “Orang tua sempat melarang, karena jarak ke sekolah yang jauh dan tau fixie gak pakai rem,” ujar anggota komunitas Slukukers ini.

Semakin maraknya peminat sepeda fixie menjadikan sepeda ini sebagai ladang bisnis. Tak heran kalau anggapan sepeda mahal juga kerap melekat pada fixie. Biasanya harga disesuaikan dengan komponen premium atau standar. Jebolan merek juga jadi perhitungan.

Sebut saja untuk crank fixie merek Gran Compe harganya bisa Rp2 juta. Namun jangan khawatir, tersedia juga harga yang relatif murah. Crank merek Sugino 48 gigi buatan hanya dijual Rp250 ribu. Bahannya ringan karena terbuat dari alumunium. Urusan crank sebaiknya menyesuaikan dengan model rangka yang dipakai.

Sebelum membeli komponen sepeda, pemakai baiknya mempertimbangkan dulu budget yang tersedia. Tentunya ditambah dengan daya imajinasi dan jiwa seni untuk merakit dan memodifikasi sepeda. Saat ini sudah banyak toko yang menjual komponen sepeda fixie dari kualitas bawah, menengah sampai premium.

Pemakai juga tak mesti membeli komponen baru. Cukup memanfaatkan sepeda bekas dan merakitnya sendiri. Frame dari jenis sepeda lain juga bisa dijadikan frame fixie. Yang terpenting gear utama diganti dengan fix gear, kemudian ukuran ban diganti sesuai dengan ukuran fixie. Untuk permainan warna, pemakai bisa mengecat ulang sendiri sesuai warna kesukaan. Dan, fixie rakitan sendiri plus biaya terjangkau dapat dimiliki.*

Oleh: Rudiyansyah

Redaksi Teknokra

https://teknokra.com

Kami adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dalam bidang peliputan, penelitian, dan penerbitan berita, baik berita kriminal, prestasi, ekonomi, ataupun berita-berita lain dalam bentuk straight news maupun feature, tulisan maupun animasi dan video. Nama lengkap kami adalah Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung. Berkedudukan di Universitas Lampung, sehingga artikel kami lebih mengenai Universitas Lampung, dan Lampung.

Related post