Drone Pemeta Wilayah Rawan Bencana Alam

teknokra.com: Indonesia merupakan negara agraris dengan luas Lahan Baku Sawah (LBS) sebesar 7,5 juta hektare menurut data BPS 2019. Selain itu, negara Indonesia juga terkenal dengan negara rawan bencana alam. Hal ini karena Indonesia diapit oleh tiga lempeng tektonik dunia.

Berdasarkan hal itulah yang melatarbelakangi Dede Supriatna (Teknik Elektro’15), Anggi Saputra (Teknik Elektro’15), dan Reza A. Rahadi (Teknik Elektro ’15) menciptakan drone yang dapat diaplikasikan untuk kebutuhan pertanian dan kebencanaan ini.

Drone harus memenuhi aspek seperti fungsional dan kemudahan untuk dibawa ke mana-mana, sehingga tim URO Unila membuat drone ini,” jelasnya.

Drone dengan bentuk menyerupai ikan pari ini diberi nama Drone Stingray UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Drone ini dirancang dan diproduksi di Laboratorium Teknik Digital, Fakultas Teknik, Universitas Lampung. Kemudian, pengujiannya dilakukan di Kecamatan Sukarame, Bandarlampung.  

Drone Stingray UAV ini dilengkapi dengan 12,1 mega pixel dan action cam dengan kualitas HD 1080 px.  Drone ini mampu memetakan area perkebunan dan inspeksi pada area bencana dengan hasil pemetaan berupa pemetaan 2 dimensi dan 3 dimensi.

Selain itu,  Drone Stringray UAV juga dilengkapi karet bungee dan jaring landing yang dirancang untuk dapat lepas landas dan mendarat pada area sempit. Drone tersebut dibuat dengan menggunakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 75%.

Menurut Dede, kendaraan udara nirawak jenis fixed wing ini dirancang untuk dapat digunakan dalam berbagai medan dengan kondisi alam Indonesia yang sulit diprediksi.

“Dengan kemampuan terbang selama 45 menit dan dengan daya jelajah hingga 35 km, Stingray UAV mampu memetakan wilayah seluas 250-300 Hektare,” ujarnya.

Drone ini berhasil meraih posisi ke lima nilai teratas pada Kompetisi Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2018 yang diikuti 38 perguruan tinggi se-Indonesia dengan 84 tim yang dihelat di Universitas Teknokrat Indonesia, Bandar Lampung.

“Stingray dalam hal ini mewakili Unila berhasil menyelesaikan misi pemetaan area perkebunan seluas 1,5 x 1,5 km,” jelasnya.

Prestasi lainnya, Drone Stingray juga berhasil menjuarai ajang Anugerah Inovasi Daerah Provinsi Lampung yang diadakan BALITBANGDA Provinsi Lampung. Dede dan teman-temannya mendapatkan juara pertama pada kategori peneliti.

Dalam proses riset, Dede dan timnya mengaku kerap menemui kendala. “Sering gagal, crash dan lainnya, tapi ya kita terus lakuin riset dan pengujiannya,” ujarnya.

Jadwal kuliah yang mengharuskan datang ke kampus dari pagi hingga sore juga kerap menjadi kendala Dede dan teman-temannya dalam mengatur waktu. “Karena kuliah dari jam 8 sampe jam empat pagi biasanya, Akhirnya riset kita lakukan riset dari pukul empat itu sampai pagi biasanya,” tambah Dede.

Menurut Dede, Stingray UAV siap diproduksi secara massal. Ia juga berharap Unila dapat mendukung dengan menjadikan drone ini sebagai kebutuhan drone internal kampus.

“Kami berharap inovasi ini bisa dilirik dan didanai oleh kampus supaya bisa memenuhi kebutuhan peralatan drone internal Unila maupun market nasional,” tutup Dede.

Penulis Chairul Rahman Arif

Pemimpin Redaksi

Related post