Roket Team Robotik Unila

3.-Roket-Team-RobotikUnila

Teknokra.com: Ajang Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo) tingkat nasional kembali digelar di Pantai Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Juni 2011. Lomba yang mengusung tema Attitude Monitoring and 
Surveillance itu diikuti utusan 36 perguruan tinggi di Indonesia, tak terkecuali Unila yang diwakili tim Unila Robotika and Otomasi (URO).

Semua anggota tim adalah mahasiswa Fakultas Teknik. Mereka, Perdana Agung (Elektro ‘08), Sutarno (Elektro ‘06), Swadexi (Elektro ‘07), Istiqhara(Elektro ‘09) dan Hendi Setiawan (Elektro ‘09).

Tim yang dipimpin Perdana Agung ini mengusung inovasi robot yang diberi nama Loreng Hitam Part II. Alat ini merupakan muatan roket yang dapat memonitor keadaan roket dan memoto dari udara. Dalam masa pembuatan selama 6 bulan, tim telah melakukan berbagai proses pembuatan desain body, ujicoba body, kontrol dan analisa program, dan sistem konfigurasi sensor dan menghabiskan dana Rp6 juta.

Roket berbentuk silinder ini berisi rangkaian elektronik dan sistem akuator sebagai perangkat meteorologi melalui tiga macam sensor, temperatur, tekanan dan kelembaban, serta sensor pemandu arah terbang.

Komponen muatan roket—payload terdiri dari motor elektronic commucated (ECMS). ECMS merupakan motor listrik yang didukung oleh arus searah listrik dan memiliki sistem pergantian elektronik. Rudder atau kemudi untuk mengarahkan roket, ESC servo atau perangkat kontrol, pemancar-penerima sebagai komponen penghubung komputer ke jaringan memakai teknologi pemancaran pita basis.

Secara teknis, payload ini memiliki tiga sistem utama: sistem kontrol muatan, telemetri sebagai pengukur dan pengirim data, serta sistem pemantau roket dari bumi (ground station). Ground station bekerja melalui jaringan komputer yang dilengkapi sistem penerima data digital dan program untuk menampilkan perilaku roket serta foto yang dihasilkan.

Sistem kontrol payload menggunakan motor brushless sebagai penggerak atau pendorong utama roket dan servo sebagai penggerak radar yang bisa mengarahkan payload ke semua arah. Fungsi kontrol ini bersifat otopayload, dapat diatur secara otomatis atau manual.

Sistem kontrol payload juga dibantu oleh parasut sebagai penahan muatan. Dalam kondisi jatuh bebas, kontrol otomatis ataupun manual tidak dapat digunakan tanpa adanya parasut sehingga keberadaanya menjadi sangat vital. Bila tidak ada parasut, maka gambar pun tak dapat dikirimkan ke stasiun bumi.

Sistem telemetri dipasangi sensor kamera, akselerator, dan kompas. Sistem ini bekerja bila mendapat perintah untuk mengirimkan data. Ia mampu menerjemahkan dan mengambil data dari sensor akselerator, kamera dan kompas, kemudian mengirimkannya ke bumi. “Sistem telemetri bertanggung jawab dalam proses pengiriman data ke stasiun bumi,” ujar Sutarno.

Proses peluncuran dan sistem kerja Loreng Hitam Part II mirip pada pelepasan pesawat ruang angkasa. Saat berada di angkasa, roket melakukan proses separasi—berpisahnya payload dengan badan roket. Payload kemudian menjalankan sejumlah misi seperti mengambil ukuran tekanan udara dan melakukan pemotretan.

Proses pemotretan dilakukan saat roket dalam keadaan meluncur. Proses ini memiliki tingkat kesulitan tinggi sehingga keberhasilan berpangku pada kemampuan terbang roket hingga kembali ke bumi. Proses kontrolnya dilakukan menggunakan dua metode: otomatis dan manual. Data yang didapatselanjutnya dikirim ke bumi dan diterima oleh komputer.

Swadexi menjelaskan, modul payload sebagai penerima data digital memiliki frekuensi 430Mhz. Selanjutnya data digital dihubungkan ke komputer melalui jalur komunikasi steril yang terdapat di komputer.

Pada ajang yang dimotori Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat itu, tim URO memang tak meraih juara. Namun semangat mereka untuk tetap berinovasi dalam dunia teknologi roket tetap menyala. “Payloud Loreng Hitam Part II ini ke depannya akan diujikan lebih lanjut melalui eksperimen,” ujar Perdana.*

Proses kerja alat:

-Power suplai pada baterai yang terhubung kesemua rangkaian dan sensor pada payload di hidupkan.

-Selanjutnya alat diberi switch remote—remote penghubung. Saat switch 1 pada remote dihidupkan, roket mulai bekerja mengirim data akselerator percepatan yang menggambarkan tingkah laku roket dengan menggunakan wireless 430Mhz secara bersamaan. Switch 2 mengaktifkan kontrol otomatis pada payload untuk pulang ke bumi (otopayload).

-Setelah 12 detik saat swicth 1 di matikan, lalu swicth 2 dihidupkan maka payload akan mengaktifkan kamera dan kontrol. Sistem ini kemudian akan mengirimkan gambar sekitar daerah pantai ke stasiun bumi sambil melawan kencang angin lebih dari 15m/s ke arah barat daya.

Oleh: Indarti

Redaksi Teknokra

https://teknokra.com

Kami adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dalam bidang peliputan, penelitian, dan penerbitan berita, baik berita kriminal, prestasi, ekonomi, ataupun berita-berita lain dalam bentuk straight news maupun feature, tulisan maupun animasi dan video. Nama lengkap kami adalah Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung. Berkedudukan di Universitas Lampung, sehingga artikel kami lebih mengenai Universitas Lampung, dan Lampung.

Related post