URO Unila Borong Juara KRTI

teknokra.com: Unila Robotika dan Otomasi (URO) borong empat juara pada gelaran Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2020. KRTI merupakan kompetisi pesawat tanpa awak paling bergengsi yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kompetisi ini dilakukan secara daring dengan Universitas Lampung (Unila) sebagai tuan rumah.

Tim Suttan Hawk dengan anggotanya Ade Fachrurrozie (Teknik Elektro’17), Abdul Rosyid (Teknik Elektro’18), dan Reza Aditya Rahad (Teknik Elektro’18) berhasil menjadi Juara III di Divisi Technology Development (TD) kategori Flight Controller (TDF).

Tim ini mengembangkan teknologi yang bernama flight controller. Flight controller ini berbasis STM32H743VIT6 yang memiliki sistem kendali Adaptive PID yang pengembangannya telah dilakukan sejak setahun lalu. Wahana ini dilombakan dalam divisi technology development sebagai konsep pengembangan teknologi pesawat tanpa awak pada kategori Flight Controller.

Ade mengeluhkan kendala koneksi internet yang kurang bagus. Ia berharap Unila bisa menyediakan koneksi internet yang lebih baik untuk kelancaran KRTI selanjutnya apabila dilaksanakan secara daring.

Tim dari devisi Racing Plane, Jayesh Unila Robotika dan Otomasi (URO) C-19 berhasil meningkatkan prestasinya yang pada tahun sebelumnya hanya sampai 8 besar. Tim ini terdiri dari dari 8 mahasiswa yaitu Hardiawan Yunanto (Teknik Elektro’18) selaku ketua tim, Abdul Hadi (Teknik Elektro’18), Fikri Achmadi (Teknik Elektro’18), Adhi Noer J. (Teknik Elektro’19), Bagus Agung (Teknik Elektro’19), Hadi Nuari C. (Teknik Informatika’19), Serly Assola Tya N. (Fisika’19), dan Maulana Fahar M. (Teknik Elektro’18) berhasil meraih juara III Racing Plane pada KRTI 2020 ini.

Desain wahana (pesawat) yang digunakan Jayesh URO C-19 pada tahun ini adalah twin boom dengan tipe sayap delta wing. Tim ini percaya pesawat dengan desain ini lebih agresif dalam bermanuver namun tetap stabil.

Selain itu bahan yang digunakan untuk pembuatan itu berupa polyfoam (depron) dengan tebal 5 mm. Mereka juga menggunakan sistem propulsi dengan motor 900kv dengan propeller 9×6, sedangkan untuk flight control yang digunakan yaitu mini pixhawk dengan gps 3DR.

Hardiawan mengatakan sebelum menentukan desain pesawat mereka terlebih dahulu melakukan simulasi pada software mission planer. Menurutnya, jangan sampai pandemi menghentikan untuk meraih prestas.

“Kalau sebenarnya tidak ada kesulitan selama kita mau usaha, dan juga dalam kegiatan ini kami mendapat bimbingan dari senior ataupun dosen,” ucapnya.

Ketua URO, Mona Arif Muda Batubara merasa bangga dengan mahasiswa yang tergabung dalam Research Grup Unila Robotika dan Otomasi. Melalui lomba-lomba, membuktikan bahwa mereka dapat meraih prestasi yang bisa diandalkan dan bisa menjadi tolak ukur posisi mahasiswa Unila di Indonesia.

“Saya merasa bangga dengan ini dapat menambah credit point untuk Unila. Kita juga cukup puas karena apa yang dikerjakan ini terbukti membuahkan hasil dan mampu menempatkan Unila sebagai salah satu Perguruan Tinggi terbaik dalam riset-riset tentang teknologi,” ujarnya.

Perlombaan dilaksanakan dalam bentuk presentasi, tanya jawab dan uji coba. Adapun unsur penilaiannya meliputi originalitas, impact atau dampak performance, analisis rencana bisnis dan local contain atau tingkat kandungan local dari material yang digunakan.

Uji coba atau demo wahana dilakukan di kampus Institut Teknologi Sumatera. Angin kencang sempat mengganggu kegiatan penerbangan, tetapi adanya Adaptive PID yang telah dikembangkan dapat menangani hal tersebut, sehingga wahana dapat terbang dengan baik.

Selain itu, URO juga berhasil meraih juara 1 pada Devisi Fixed Wing dan juara 2 pada TD Airframe Innovation.

Penulis: Ridho Dwi Saputra dan Silvia Agustina

Redaktur Jaringan

https://teknokra.com

Related post