Kasus Peretasan Digital Ancam Kebebasan Berpendapat

teknokra.com: Saat ini kasus peretasan digital marak terjadi di Indonesia menjadi kasus serius yang mengancam kebebasan berpendapat. Hal ini disampaikan oleh Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Hendry Sihaloho dalam diskusi bertajuk “Represi dan Keamanan Digital” yang ditayangkan di kanal YouTube UKPM Teknokra, Rabu, (24/6).

“Ini persoalan yang serius, hal yang elementer, kebebasan berpendapat merupakan hal yang penting dalam berdemokrasi,” ucapnya.

Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto mengungkapkan tiga pola kejahatan dunia maya. Dia mengatakan perang kuasa yang terjadi ialah perang informasi, rebutan kepemilikan data, dan akses senjata.

Mulanya, Damar memaparkan data korban yang mendapat kejahatan digital. Ia juga menyebutkan nama-nama korban, termasuk teror yang menimpa pengurus Teknokra beberapa pekan lalu. Ia menjelaskan selama pandemi terjadi peningkatan penggunaan internet sebanyak 20 persen.

“Serangan siber itu tujuannya untuk teror agar yang diteror itu bungkam dan ketakutan, itu merupakan pukulan besar terhadap demokrasi dan sebuah kemunduran besar terhadap kebebasan berekspresi,” ujarnya.

Lalu, Dhyta Caturani, Founder PurpleCode mengatakan serangan digital niscaya terjadi di era digital seperti saat ini. Menurutnya, dunia maya merupakan dunia nyata karena setiap hari manusia terkoneksi ke internet. Maka dari itu, keamanannya perlu juga dijaga.

“Peretasan yang terjadi karena password kita, maka nomor satu untuk mengamankan kehidupan digital kita adalah menggunakan password yang sangat kuat, hanya dengan itulah kita bisa mengamankan perjuangan kita di dunia digital,” jelasnya.

Ia berpesan perjuangan diranah daring tidak boleh membuat aktivis menjadi bungkam, menjadi menyensor diri hanya karena takut pada serangan.

Penulis Sri Ayu Indah Mawarni

Pemimpin Redaksi

Related post