Jaga Tradisi Lewat Pernikahan

pernikahan adat lampung

 

Pernikahan adat Lampung terkesan ribet dan memakan banyak biaya. Namun hal itu tak dihiraukan oleh Syafaruddin warga asli Bengkunat, Lampung Barat. Ia tak peduli berapa biaya yang dikeluarkan untuk persiapan pernikahannya. Baginya mempertahankan tradisi adalah hal yang wajib.

Namun pernikahan kali ini lebih modern dan tidak memakan waktu yang lama seperti biasanya. Biasanya warga Lampung Saibatin melangsungkan rangkaian pernikahan hingga tujuh hari tujuh malam. Namun kali ini pernikahan kali ini hanya berlangsung tiga hari tiga malam. Hal itulah yang dilakukan oleh Desi Wulandari dan Zainudin.

Desi yang bukan keturuan Lampung Saibatin seperti Zainudin pun mau mengikuti rangkaian resepsi pernikahan yang padat ini. Baru saja sampai di kediaman Zainudin setelah yang jarak tempuhnya lima jam dari Kota Bandar Lampung. Ia langsung didandani karena acara adat akan langsung dilaksanakan. Yakni doa bersama untuk meminta restu dari kerabat dan handai taulan.

Setelah doa usai, dilanjutkan dengan acara hiburan yang dimeriahkan oleh bujang gadis, Sambai Bayu namanya. Dalam acara ini bujang gadis memainkan suatu permainan. Bujang gadis saling duduk berhadapan, satu botol dipegang oleh satu gadis di pojok dan satu botol dipegang oleh satu bujang dipojok, saat musik dibunyikan botol harus dioper ke teman di sampingnya, bila musik berhenti botol pun harus berhenti.

nikah adat

Siapa saja yang mendapatkan botol dari pihak gadis dan bujang akan mendapat hukuman, hukuman sudah ditentukan, diletakkan di dalam balon. Balon akandipecah dan dibacakan hukumannya, dan harus dilakukan oleh bujang dan gadis. Dalam acara ini sering menimbulkan gelak tawa bagi yang menonton, kadang hukumannya adalah menari bersama, bernyanyi, bahkan menyatakan cinta.

Esok harinya pagi-pagi sekali, kabayan atau sebutan untuk pengantin wanita pun sudah bersolek. Desi mengenakan baju adat warna hitam, sarung tapis, dilengkapi gelang dan kalung dari kuningan menambah kemewahan kabayan. Seharian ini kabayan tidak diizinkan keluar, hanya boleh duduk di dalam rumah. Layaknya seorang ratu, makan, minum selau dihidangkan, bila ingin ke kamar mandi pun selalu ditemani para gadis

Desi tak sendiri, beberapa gadis menemaninya, mengenakan sarung duduk mengelilingi kabayan, sambil membunyikan terbangan (rebana) dan menyanyikan lagu al-barjanji, sesekali lagu Lampung, ini dilakukan untuk menghibur kabayan..

Dari jauh rumah sudah terlihat ornamen-ornamen hingga Lampung terpampang. Tak ketinggalan hilir mudik sanak saudara dan tetangga yang bergotong royongmembantu kepanitian. Mereka pun secara sukarela menyediakan berbagai keperluan untuk melancarkan acara ini.

Oleh Rukuan Sujuda

Redaksi Teknokra

https://teknokra.com

Kami adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dalam bidang peliputan, penelitian, dan penerbitan berita, baik berita kriminal, prestasi, ekonomi, ataupun berita-berita lain dalam bentuk straight news maupun feature, tulisan maupun animasi dan video. Nama lengkap kami adalah Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung. Berkedudukan di Universitas Lampung, sehingga artikel kami lebih mengenai Universitas Lampung, dan Lampung.

Related post